Dari Kampus ke Ruang Redaksi, Suara Mahasiswa dan Oksigen Baru Jurnalisme Indonesia  

- Jurnalis

Minggu, 5 Oktober 2025 - 19:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MIM, JAWA TENGAH, 05 OKTOBER 2025

​Blora – Mediaindonesiamaju.com Dunia jurnalisme di Indonesia sedang mengalami turbulensi hebat. Antara tekanan bisnis, disrupsi media sosial, dan perjuangan melawan banjir informasi palsu, kredibilitas pers seolah dipertaruhkan setiap hari.

 

Di tengah krisis kepercayaan ini, muncul energi segar yang tak terduga, mahasiswa.

 

​Jurnalisme tidak lagi menjadi domain eksklusif mereka yang berpredikat profesional. Mahasiswa, melalui pers mahasiswa (persma) atau sebagai jurnalis kontributor di media umum, membawa perspektif yang krusial dan otentik.

 

Mereka bukan sekadar generasi penerus, melainkan agen perubahan yang secara aktif mendefinisikan kembali bagaimana sebuah berita disajikan dan direspons.

 

​Apa yang membuat jurnalis mahasiswa begitu penting? Pertama, otentisitas. Sebagai bagian dari kelompok yang vokal, idealis, dan sering kali menjadi korban langsung dari kebijakan publik, mereka memiliki kepekaan yang tinggi terhadap isu-isu akar rumput, mulai dari mahalnya UKT, permasalahan lingkungan lokal, hingga kesehatan mental.

 

Mereka menulis bukan hanya sebagai pelapor, tetapi sebagai pihak yang mengalami. Hal ini menghasilkan reportase yang jauh lebih dalam, jujur, dan memiliki daya kejut emosional yang kuat bagi pembaca sebaya.

Baca Juga :  Dugaan Pungli Restorative Justice di Polsek Kebonagung, Kapolsek Diduga Minta Uang RJ

 

Berbeda dengan media arus utama yang terkadang terikat pada kepentingan politik atau korporasi, jurnalis mahasiswa umumnya memiliki independensi idealisme yang lebih tinggi.

 

Mereka berada di garis depan kritik terhadap kebijakan kampus, otoritas lokal, bahkan isu-isu nasional yang luput dari sorotan media besar.

 

Mereka adalah ‘penjaga gerbang’ yang menolak membiarkan narasi tunggal mendominasi.

 

​Tantangan di persimpangan jalan, amun, menjadi jurnalis dari kalangan mahasiswa bukanlah tanpa hambatan. Tantangan terbesar adalah keterbatasan sumber daya dan legalitas perlindungan.

 

Pers mahasiswa seringkali beroperasi dengan dana minim, tanpa akses pelatihan profesional yang memadai, dan yang paling mengkhawatirkan, tanpa payung hukum yang kuat.

Ketika mereka memberitakan kasus sensitif di lingkungan kampus atau kebijakan publik yang merugikan, mereka rentan terhadap intervensi, pembredelan, bahkan sanksi akademik.

 

Situasi ini menciptakan dilema etis, mempertahankan idealisme jurnalistik atau mengorbankan masa depan akademik. Ini adalah situasi yang tak adil, yang menuntut adanya jaminan perlindungan bagi aktivitas jurnalistik mahasiswa, sejalan dengan yang berlaku bagi jurnalis profesional.

 

​Selain itu, di era digital, mereka harus berhadapan dengan dilema lain, yakni keseimbangan antara viralitas dan kredibilitas. Sebagai generasi yang tumbuh di media sosial, godaan untuk mengejar klik seringkali lebih besar.

Baca Juga :  Pemalang Berkomitmen Tingkatkan Kualitas PAUD melalui Rapat Koordinasi Bunda PAUD

 

Mahasiswa jurnalis perlu konsisten mengedepankan verifikasi, keberimbangan, dan kode etik, agar peran mereka tidak tergerus menjadi sekadar content creator yang didorong oleh algoritma.

 

​​Pemerintah, Dewan Pers, dan institusi pendidikan harus melihat fenomena ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai investasi masa depan jurnalisme.

 

Kita membutuhkan energi baru ini untuk menyuntikkan kembali darah segar jurnalisme kritis.

 

​Mahasiswa adalah laboratorium ide bagi jurnalisme yang adaptif, beretika, dan berani. Mereka adalah bukti bahwa semangat melaporkan kebenaran, terlepas dari latar belakang atau batasan umur, akan selalu relevan.

 

Memberi dukungan penuh dan perlindungan yang layak bagi jurnalis mahasiswa sama dengan berinvestasi pada kualitas demokrasi dan kejernihan informasi di masa depan bangsa.

 

​Ini adalah saatnya bagi ruang redaksi profesional untuk membuka pintu lebih lebar, belajar dari semangat investigasi ala kampus, dan memberikan mentorship yang terstruktur.

 

Sebab, suara mahasiswa hari ini adalah oksigen yang akan menentukan apakah pers Indonesia besok masih bisa bernapas bebas.

 

Rep : Latif

Berita Terkait

Geliat Bulan Bakti  PPWI ke-18 Tahun 2025, DPC PPWI Kabupaten Mesuji   
Layanan Imunohistokimia (IHK) Resmi Dibuka di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi
Pengerjaan Asal-Asalan Proyek Ruang Kelas Baru SDN Tanjung Wangi Muncul, Kualitas dan Keamanan Dipertanyakan
Seorang Perwira Polres Pekalongan Kota Diduga Bermalam dengan Istri Orang, Suami Geruduk Rumah Bersama Warga
DPRD Soroti Kualitas Pembangunan SD Satu Pamulihan, Dinas pendidikan Lampung Selatan Beri Teguran
Dugaan Pelanggaran Izin di Galian Kalikayen Menguat, Warga Sebut Tiga Lokasi Tambang Ilegal Masih Beroperasi
DPRD Lampung Selatan Soroti Proyek Rehabilitasi SD Negeri Pamulihan, Kontraktor Janji Perbaikan  
LPK-RI Soroti Dugaan Pelanggaran Penjualan Obat Keras Tanpa Izin dan Ketidakjelasan Penanganan Kasus di Polsek Kalideres

Berita Terkait

Minggu, 30 November 2025 - 08:53 WIB

Geliat Bulan Bakti  PPWI ke-18 Tahun 2025, DPC PPWI Kabupaten Mesuji   

Sabtu, 29 November 2025 - 12:18 WIB

Layanan Imunohistokimia (IHK) Resmi Dibuka di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi

Jumat, 28 November 2025 - 21:09 WIB

Pengerjaan Asal-Asalan Proyek Ruang Kelas Baru SDN Tanjung Wangi Muncul, Kualitas dan Keamanan Dipertanyakan

Kamis, 27 November 2025 - 23:33 WIB

Seorang Perwira Polres Pekalongan Kota Diduga Bermalam dengan Istri Orang, Suami Geruduk Rumah Bersama Warga

Kamis, 27 November 2025 - 19:34 WIB

DPRD Soroti Kualitas Pembangunan SD Satu Pamulihan, Dinas pendidikan Lampung Selatan Beri Teguran

Berita Terbaru