JAYAPURA – Lucia Runggeari menghadirkan pendekatan berbeda dalam memperkenalkan potensi kopi Papua melalui program English Coffee Storytelling, sebuah community development project SAGU Foundation yang memadukan pembelajaran bahasa Inggris dengan cerita, identitas, dan potensi kopi Papua.

Program tersebut dipimpin Lucia bersama Azarya Patty dan Rachel Mansawan, yang ketiganya merupakan tutor di SAGU Foundation. Kegiatan ini melibatkan barista, petani kopi, serta pencinta kopi yang ingin mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris sesuai kebutuhan mereka di bidang kopi.
Selain menjadi tutor di SAGU Foundation, Lucia juga merupakan Chief Executive Officer (CEO) Highland Roastery, rumah produksi kopi di Jayapura yang mengolah dan memasarkan kopi Papua dengan bekerja sama bersama petani lokal. Highland Roastery juga menjadi ruang pelatihan bagi barista dan komunitas kopi yang dikelola Lucia bersama suaminya, Yafeth Wetipo.
Dalam program English Coffee Storytelling, peserta mempelajari berbagai kosakata yang berkaitan dengan budidaya kopi, pengolahan pascapanen, karakteristik rasa, teknik penyeduhan, hingga cara memperkenalkan produk kopi Papua dalam bahasa Inggris.
Pembelajaran dilaksanakan di SAGU Foundation dan Highland Roastery. Dengan demikian, peserta dapat langsung menerapkan kemampuan yang dipelajari dalam suasana yang dekat dengan aktivitas mereka sehari-hari.
Pendekatan storytelling menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Peserta tidak hanya belajar menyebutkan nama produk atau menjelaskan cita rasa kopi, tetapi juga berlatih menceritakan asal-usul kopi, lingkungan tempat kopi ditanam, hingga masyarakat yang terlibat dalam proses produksinya.
Lucia mengatakan bahwa program tersebut tidak semata-mata berfokus pada kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga mendorong kepercayaan diri masyarakat dalam memperkenalkan identitas daerahnya.
“English Coffee Storytelling bukan hanya tentang belajar bahasa Inggris, tetapi tentang membangun kepercayaan diri dan menyuarakan cerita Papua melalui kopi,” ujar Lucia.
Pengalaman pelaksanaan program kemudian dibagikan Lucia melalui artikel berjudul “Strengthening Voices: English Coffee Storytelling for Baristas and Farmers in Papua”, yang dipublikasikan di website SAGU Foundation pada 14 Juli 2025.
Tidak berhenti pada kegiatan pengembangan masyarakat, program tersebut juga berkembang menjadi kajian ilmiah. Artikel berjudul “English for Specific Purposes Through Coffee Storytelling: Assessing Communication Competencies of Value Chain Actors in Jayapura, Papua” ditulis oleh Lucia Runggeari, Rachel Mansawan, Azarya Binoni Patty, dan Yafeth Wetipo.
Artikel ilmiah tersebut dipublikasikan pada 5 Agustus 2026 dalam Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian.
Publikasi tersebut membahas bagaimana pembelajaran bahasa Inggris yang disesuaikan dengan konteks pekerjaan dapat membantu pelaku industri kopi mengembangkan kemampuan komunikasi, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus memperkenalkan identitas kopi Papua kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui English Coffee Storytelling, Lucia bersama Azarya dan Rachel menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan komunitas lokal.
Keterlibatan Lucia sebagai tutor SAGU Foundation sekaligus CEO Highland Roastery juga memperlihatkan bahwa pendidikan, pengembangan usaha, dan kolaborasi dengan komunitas dapat berjalan beriringan untuk mengangkat potensi kopi Papua.
Program tersebut menjadi contoh bahwa kopi tidak hanya dapat diperkenalkan melalui cita rasa dan produk, tetapi juga melalui cerita tentang petani, lingkungan, budaya, serta masyarakat Papua yang berada di balik setiap cangkir kopi.
Rep_Fq










