Diduga Ada Gratifikasi, Mobil Debitur Ditarik Paksa di Lingkungan Polsek Watukumpul

- Jurnalis

Senin, 14 Juli 2025 - 23:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MIM,Jawa Tengah 14 Juli 2025

Pemalang, Mediaindonesiamaju.com – Citra institusi penegak hukum kembali tercoreng. Sebuah insiden penarikan mobil secara paksa oleh debt collector di lingkungan Polsek Watukumpul, Kabupaten Pemalang, menimbulkan tanda tanya besar terkait integritas aparat. Dugaan aliran dana senilai Rp2 juta kepada pihak Polsek, yang terekam dalam voice note, menambah keruh kasus ini.

Korban, Koiman, debitur dari PT Mandiri Utama Finance (MUF), mengungkapkan bahwa mobilnya ditarik sebelum batas waktu kesepakatan pelunasan, padahal kendaraan tersebut sedang dititipkan di Markas Polsek. Dalam voice note yang ia terima, debt collector bernama Penji menyebut adanya pemberian uang kepada Polsek sebagai “uang pelicin”.

Kronologi Janggal: Dari Kesepakatan Hingga Penarikan Diam-diam

Peristiwa ini bermula pada tahun 2023, saat Koiman mengajukan kredit sebesar Rp50 juta yang kemudian meningkat menjadi Rp100 juta. Setelah berjalan 13 bulan, ia menunggak selama tiga bulan karena kesulitan keuangan. Didatangi berkali-kali oleh debt collector, Koiman akhirnya sepakat menitipkan mobilnya di Polsek untuk menyelesaikan tunggakan sebesar Rp19 juta dalam waktu 2–3 hari.

“Kesepakatan itu dibuat dan disaksikan oleh anggota piket Polsek,” ujar Koiman.

Baca Juga :  Pemuda Asal Desa Batu Badak Tewas Ditabrak Mobil di Gunung Sugih, Polisi Belum Turun ke TKP

Namun, hanya 14 jam kemudian, mobilnya sudah berpindah tangan ke kantor pusat MUF. “Penji memberi tahu saya lewat video call bahwa mobil sudah dibawa. Ia juga menyebut telah menyerahkan uang Rp2 juta ke Polsek,” jelas Koiman, seraya menunjukkan bukti voice note.

Respons Polsek Watukumpul: Bantahan dan Saling Lempar Tanggung Jawab

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Watukumpul mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut dan menyerahkan urusan kepada Kanit dan anggota piket. Sementara, anggota piket yang hadir saat penitipan juga enggan berkomentar banyak, dan meminta agar wartawan menghubungi Kanit.

Kanit yang bersangkutan membantah keras adanya penerimaan uang. Ia berjanji memfasilitasi mediasi pada Senin, 8 Juli 2025, namun pertemuan itu berakhir tanpa solusi.

Penji, sang debt collector, mengakui mengenal Kanit dan menyebut pemberian uang sebagai bentuk “ucapan terima kasih”. Namun ia berdalih, “Soal Rp2 juta, itu baru rencana. Saya hanya jalankan perintah atasan.”

Kuasa Hukum Koiman: Ada Dugaan Gratifikasi dan Pelanggaran Berat

Rasmono SH, kuasa hukum Koiman, mengecam keras tindakan penarikan unit oleh debt collector di lingkungan Polsek. Ia menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum serius, apalagi disertai dengan dugaan pemberian uang kepada aparat.

Baca Juga :  Jateng Tancap Gas Ekonomi Hijau: CJIBF Dibuka, Hilirisasi Pangan dan Energi Terbarukan Jadi Andalan!  

“Penarikan unit tanpa kehadiran kedua belah pihak di kantor polisi adalah pelanggaran. Jika benar ada aliran dana, maka itu masuk kategori gratifikasi,” tegas Rasmono. Ia menyebut, kliennya sudah tiga kali datang ke Polsek namun tidak mendapatkan kejelasan.

“Jika tidak ada itikad baik, kami akan menempuh jalur hukum hingga ke Mabes Polri,” tambahnya.

Pertaruhan Citra Polri: Mampukah Menindak Tegas Oknum Nakal?

Kasus ini menyingkap kembali persoalan lama: relasi gelap antara debt collector dan oknum aparat. Jika dugaan ini terbukti, maka bukan hanya soal pelanggaran prosedur, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah sebagai penegak hukum.

Kini, publik menanti langkah tegas dari institusi Polri. Akankah ada pembersihan internal dan penindakan tegas terhadap oknum yang bermain mata dengan “mata elang”? Ataukah kasus ini akan menguap, seperti banyak kasus serupa lainnya?

Sudah saatnya Polri menunjukkan keberpihakannya pada keadilan dan perlindungan masyarakat, bukan pada kepentingan sesaat.

(Tim Redaksi Mediaindonesiamaju.com)

Berita Terkait

LPER Cabang Semarang Raya Resmi Terima SK Kepengurusan Periode 2026–2031, Siap Bersinergi untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  
DPRD Demak Gelar Paripurna ke-33, Enam Fraksi Sampaikan Pandangan Umum Raperda APBD 2027  
Ketika Penyidik Dengan Jaksa Penuntut Umum Kejari Semarang Sependapat, Terlapor Menjadi Tersangka Dan Perkara P21  
Pengurus SMSI Jawa Tengah Periode 2026-2030 Resmi Dilantik di Demak
Audiensi Forrbes Memanas, Massa Walk Out Tuntut Bupati Jelaskan Polemik KUA-PPAS 2027
John L. Situmorang Soroti Rencana Eksekusi Rumah Klien, Minta PN Semarang Menunda  
Ketua Umum FORWAKUM TIPIKOR Mulai Soroti Disdik Batu Bara, Diduga Jadi Objek Bisnis Meraup Keuntungan   
Hampir Sepekan Tanpa Kejelasan, Kuasa Hukum Siti Fatimah Beri Batas Waktu Kopendik Banjarejo  

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:08 WIB

LPER Cabang Semarang Raya Resmi Terima SK Kepengurusan Periode 2026–2031, Siap Bersinergi untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:49 WIB

DPRD Demak Gelar Paripurna ke-33, Enam Fraksi Sampaikan Pandangan Umum Raperda APBD 2027  

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Ketika Penyidik Dengan Jaksa Penuntut Umum Kejari Semarang Sependapat, Terlapor Menjadi Tersangka Dan Perkara P21  

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:00 WIB

Pengurus SMSI Jawa Tengah Periode 2026-2030 Resmi Dilantik di Demak

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Audiensi Forrbes Memanas, Massa Walk Out Tuntut Bupati Jelaskan Polemik KUA-PPAS 2027

Berita Terbaru

Tak Berkategori

*Polri Terbitkan SE Larangan Penggunaan Vape bagi Personel

Senin, 2 Nov 2026 - 08:37 WIB

Tak Berkategori

Hari Pers Nasional Milik Semua Insan Pers di Tanah Air

Senin, 2 Nov 2026 - 07:37 WIB