JAKARTA – Gus Yusuf dinilai sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki kapasitas, pengalaman, serta kedekatan kuat dengan dunia pesantren. Kehadirannya disebut dapat menjadi energi baru atau “darah segar” bagi NU dalam memperluas pengabdian kepada umat.
Penilaian tersebut disampaikan oleh sosok yang pernah mengenal Gus Yusuf sejak menjadi adik kelas di Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) Lirboyo. Dalam pergaulan, Gus Yusuf dikenal sebagai pribadi yang tenang, tidak gemar membuat kegaduhan, namun tekun bekerja dan lebih memilih menunjukkan kesungguhan melalui hasil nyata.
Gus Yusuf tumbuh dari keluarga kiai besar. Namun, latar belakang tersebut tidak membuatnya merasa cukup. Ia justru membangun dirinya melalui kerja keras, kesabaran, dan pengabdian.
Sebagai kader yang tumbuh dari lingkungan pesantren, Gus Yusuf memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat mempelajari ilmu agama. Pesantren juga menjadi ruang pembentukan karakter, kemandirian, penghormatan kepada ulama, kesederhanaan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Kesungguhan tersebut terlihat dari kiprahnya dalam mengelola pesantren peninggalan orang tuanya. Ia tidak hanya menjaga warisan para pendahulu, tetapi juga berupaya mengembangkan lembaga pendidikan tersebut agar semakin maju dan memberikan manfaat lebih luas.
Perhatiannya terhadap pesantren juga tidak berhenti pada lembaga yang dikelolanya sendiri. Pesantren yang telah berkembang terus didukung, sementara pesantren yang menghadapi keterbatasan didorong agar mampu bangkit dan meningkatkan kualitasnya.
“Kerja seperti itu sering kali tidak terdengar. Tidak selalu masuk pemberitaan dan tidak selalu menjadi bahan perbincangan. Padahal, perubahan besar lahir dari ketekunan mengurus hal-hal yang tampak kecil,” ungkapnya.
Pengalaman bersama Gus Yusuf juga diperoleh dalam kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), khususnya di Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Dari pengalaman tersebut, Gus Yusuf dinilai memahami dunia pesantren sekaligus mengerti karakter perjuangan NU.
Pengalamannya dalam organisasi, termasuk di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), juga membentuk kemampuan komunikasi dan membangun hubungan dengan berbagai kalangan. Meski demikian, pengalaman tersebut dinilai tidak membuatnya kehilangan akar tradisi pesantren.
NU, menurutnya, membutuhkan kader yang dekat dengan pesantren, tidak tercerabut dari kehidupan warga, serta bersedia bekerja keras tanpa selalu mengejar sorotan.
“NU tidak cukup hanya dipimpin oleh orang yang pandai tampil di panggung. NU harus dihidupi oleh orang-orang yang siap hadir ketika pesantren membutuhkan perhatian, ketika warga memerlukan jalan keluar, dan ketika umat membutuhkan pelayanan nyata,” tegasnya.
Gus Yusuf juga disebut memiliki perhatian besar terhadap penguatan pendidikan pesantren dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat. Dua sektor tersebut dinilai sangat berkaitan dengan kebutuhan warga NU.
Pesantren diharapkan terus berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan sekaligus pembentukan akhlak. Sementara itu, masyarakat, khususnya kelompok kecil dan kurang mampu, perlu memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa merasa dipersulit maupun terbebani.
Dengan pengalaman, ketekunan, dan semangat khidmah yang dimilikinya, Gus Yusuf dinilai memiliki bekal untuk memperluas pengabdiannya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Kehadirannya diharapkan mampu membawa gagasan baru, memperkuat kerja organisasi, sekaligus tetap menjaga tradisi, adab, dan kepedulian terhadap umat.
“Memberi ruang kepada Gus Yusuf untuk memperluas pengabdian di Nahdlatul Ulama adalah ikhtiar menghadirkan darah segar bagi NU: segar dalam gagasan, kuat dalam kerja, namun tetap berakar pada tradisi, adab, dan kepedulian kepada umat,” pungkasnya.
Rep_Fq










