Putusan MA Final, NV Hadji Kalla Kalah: Sengketa Lahan 16 Hektar di Tanjung Bunga Kian Panas dan Terjadi Bentrokan di Lokasi

- Jurnalis

Minggu, 26 Oktober 2025 - 23:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MIM,Sulawesi 26 Oktober 2025

Makassar, Sulawesi Selatan,Mediaindonesiamaju.com—
Sengketa lahan strategis di kawasan Tanjung Bunga, Makassar, kembali memanas. Dua perusahaan besar, PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) dan NV Hadji Kalla, disebut terlibat dalam perebutan lahan seluas 32 hektar, masing-masing mengklaim kepemilikan atas area 16 hektar. Situasi memanas di lapangan bahkan dilaporkan menimbulkan bentrokan antar kelompok pada Sabtu (26/10).

Namun secara hukum, putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor 218 PK/PDT/2005 telah menolak Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan oleh NV Hadji Kalla, serta menguatkan kepemilikan sah atas nama A. Pammusureng Dg. Mangngawing. Artinya, hingga kini tidak ada dasar hukum yang membatalkan hak kepemilikan keluarga Pammusureng.

“Putusan MA itu sudah berkekuatan hukum tetap. Tidak ada ruang bantahan lagi. Tapi anehnya, masih ada pihak yang mengklaim tanah itu seolah milik mereka,” ujar sumber terpercaya yang mengetahui riwayat sengketa tersebut.

Menurut informasi yang diperoleh, A. Pammusureng Dg. Mangngawing bersama istrinya Nyonya Nurhayana membeli tanah tersebut secara sah dari Hamid Lau, disertai dokumen resmi dan akta kepemilikan yang kuat. Dalam amar putusan MA bahkan ditegaskan bahwa tanah milik NV Hadji Kalla berada di lokasi berbeda dan tidak bersinggungan dengan area milik keluarga Pammusureng.

“Ini bukan lagi soal klaim, tapi soal menghormati hukum. Ketika Mahkamah Agung sudah bicara, semua pihak seharusnya tunduk,” tegas salah satu ahli waris keluarga Pammusureng.

Pihak keluarga menyesalkan masih adanya aktivitas di lapangan yang diduga dilakukan oleh pihak tak berhak, termasuk penimbunan dan pemasangan pagar di area sengketa. Mereka menilai ada indikasi penyerobotan dan penggunaan surat palsu untuk memperkuat klaim lahan.

“Kami punya dasar hukum yang sah. Tapi tiba-tiba ada pihak datang mengaku pemilik, bahkan melakukan penimbunan dan pemagaran. Ini pelanggaran hukum,” ujar ahli waris dengan nada geram.

Keluarga besar Pammusureng mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan untuk menghentikan seluruh aktivitas di atas lahan tersebut demi mencegah eskalasi konflik. Mereka juga meminta agar aparat menjaga keamanan di lokasi agar tidak kembali terjadi bentrokan.

“Kami minta aparat bertindak tegas, karena tanah ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Jangan biarkan pihak yang kalah di pengadilan masih bermain di lapangan,” tegas keluarga Pammusureng.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak GMTD dan NV Hadji Kalla belum memberikan pernyataan resmi. Namun, dokumen yang diterima redaksi menunjukkan bahwa putusan MA Nomor 218 PK/PDT/2005 menjadi bukti final bahwa NV Hadji Kalla kalah secara hukum, sementara kepemilikan sah tetap berada di tangan keluarga besar Pammusureng.

“Tidak ada yang berani membantah fakta hukum ini. Putusan MA sudah final dan mengikat,” pungkas sumber keluarga.

#Tim Investigasi Media Indonesia Maju

Baca Juga :  146 SDM Baru Perkuat RS Keluarga Sehat Rembang, Mayoritas Putra Daerah.  ‎

Berita Terkait

Dugaan Job Fiktif PMI Jepang Diselidiki, Sejumlah LPK dan Rantai Penempatan Jadi Sorotan  
LPER Cabang Semarang Raya Resmi Terima SK Kepengurusan Periode 2026–2031, Siap Bersinergi untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  
DPRD Demak Gelar Paripurna ke-33, Enam Fraksi Sampaikan Pandangan Umum Raperda APBD 2027  
Ketika Penyidik Dengan Jaksa Penuntut Umum Kejari Semarang Sependapat, Terlapor Menjadi Tersangka Dan Perkara P21  
Pengurus SMSI Jawa Tengah Periode 2026-2030 Resmi Dilantik di Demak
Audiensi Forrbes Memanas, Massa Walk Out Tuntut Bupati Jelaskan Polemik KUA-PPAS 2027
John L. Situmorang Soroti Rencana Eksekusi Rumah Klien, Minta PN Semarang Menunda  
Ketua Umum FORWAKUM TIPIKOR Mulai Soroti Disdik Batu Bara, Diduga Jadi Objek Bisnis Meraup Keuntungan   

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Dugaan Job Fiktif PMI Jepang Diselidiki, Sejumlah LPK dan Rantai Penempatan Jadi Sorotan  

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:08 WIB

LPER Cabang Semarang Raya Resmi Terima SK Kepengurusan Periode 2026–2031, Siap Bersinergi untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:49 WIB

DPRD Demak Gelar Paripurna ke-33, Enam Fraksi Sampaikan Pandangan Umum Raperda APBD 2027  

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Ketika Penyidik Dengan Jaksa Penuntut Umum Kejari Semarang Sependapat, Terlapor Menjadi Tersangka Dan Perkara P21  

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:00 WIB

Pengurus SMSI Jawa Tengah Periode 2026-2030 Resmi Dilantik di Demak

Berita Terbaru

Tak Berkategori

Bank BKK Purwodadi Sampaikan Ucapan Selamat Hari Santri Nasional 2026

Kamis, 22 Okt 2026 - 11:16 WIB